 | Mendengarkan Hati Sendiri | |
...lalu tak keberatan membagi, bersama-sama jadi lebih baik lagi, dan saling mengingatkan kapan waktunya berhenti. ps: cara menggunakan web ini adalah setelah sampai di kristykristykristy.multiply.com, buka page-page lain di new tabs tanpa menutup/mengganti page ini sama sekali, coz the music is a very important part of it...:))
| stream.2009-07-15.150313 | | | | | | | stream.2009-07-15.160321 | | | | | | | stream.2009-07-15.170321 | | | | | |
Ngobrolin soal pinguin gay yang selingkuh sama lawan jenis (could it BE anymore complicated?), ibu2 yang demo via Twitter, plus ngobrolin insiden bom terakhir di Jakarta: inilah show ke sekian saya di radio PPI Dunia. Kali ini diawali dengan masalah teknis, hah. *grin* Kebiasaan siaran ngandelin Mas Anggi, ka Wahyu, Aa Jay, Pa'Bj dan Wiwied jaman di Ardan dulu ni jadinya begini...heuheu. Untung ada Natha dan Meity bantuin sampai akhirnya walaupun telat sejam saya berhasil on air. Terimakasih yaaaa. Muah! | stream.2009-07-22.155550 | | | | | | | stream.2009-07-22.165558 | | | | | | | stream.2009-07-22.175558 | | | | | |
|  | launching kecil2an dan bersenang-senang bersama sih intinya...hehe...Senang akhirnya bisa ketemuan manusia2 ini... |
 Dear Friends, Akan ada launching kecil-kecilan buat buku kedua saya, L. Acaranya di Gramedia Merdeka-Bandung pada 11 September 2008 pukul 15.00-selesai. Mari bertemu yuk! Tiada kesan tanpa kehadiranmu lho...:)) love, ~Kristy~
 Buku kedua saya ya, people. So far baru masuk di semua Gramedia, selamat menikmati yaaa..
XOXO, ~Kristy Nelwan
Dear May,
Weekend ini saya habiskan untuk berpikir tentang ekspektasi. Ekspektasi siapa saja terhadap saya, dan ekspektasi saya terhadap siapa saja. Ekspektasi dunia terhadap saya, dan ekspektasi saya terhadap dunia.Saya berniat menelusuri asal kata 'ekspektasi' atau 'harapan', asal mula ternamakannya suatu emosi yang berkonotasi positif dan menimbulkan semangat itu. Kata yang dengan caranya sendiri menyembunyikan akibat-akibat yang cukup dahsyat, membungkusnya dengan begitu rapat.
Niat tinggal niat May. Saya terlalu sibuk dnegan aktifitas klise manusia metropolitan, ditambah gprs dari provider yang biasanya saya andalkan sudah dua hari ini ngadat melulu. Saya jadihanya punya waktu untuk menguraikan pemikiran saya dengan material seadanya, itupunditengah-tengah kemacetan ibu kota.
Seorang teman baik menulis e-mail pada saya: salah satu yang membuat saya bertahan adalah 'harapan'. Bukankah kita hidup karenanya?
Sebagai seseorang yang sangat romantis saya melihat hidup itu terdiri dari segala hal yang berpasangan. Hari dan malam. Panas dan dingin. Bahagia dan sedih. Setan dan malaikat. Romeo dan Juliet. Before sunrise dan before sunset. Tawa dan air mata. Ada dan tiada. Benci dan cinta. Temu dan pisah. Mereka yang walaupun mungkin tidak satu frekuensi dan satu emosi, tapi bila sendiri jadi tak berarti.
Ekspektasi dan Realita.
Sebagian besar dari kita menghabiskan hidup untuk mengusahakan ekspektasi dan realita mereka ada dititik yang sama. Sebagian membiarkan realita mengejar ekspektasi, yang lain membiarkan ekspektasi yang mengejar realita. Ada juga golongan ketiga yang berusaha mempertemukan mereka di tengah-tengah, di area yang sepertinya lebih adil untuk keduanya. Sebagian menghalalkan segala cara, sementara lainnya melakukan itu dengan bijaksana. Pada saat ekspektasi dan realita mereka berhasil dipertemukan atau hanya sekedar dekat, kita bahagia. Sebaliknya saat kedua hal itu berjauhan, kita kecewa.
Lalu tibalah dorongan untuk menyalahkan. Keadaan, orang lain, diri sendiri, bahkan Tuhan. Dorongan yang walaupun tidak bisa dibilang ideal, tapi sangat manusiawi. Sangat wajar.
Tapi...(ah, there comes the 'tapi)
Karena saya memilih, atau setidaknya ingin mencoba untuk mendekatkan ekspektasi dan realita yang saya miliki dengan bijaksana, saya coba berhenti sebentar dan berpikir ulang. Benarkah saya ingin menyalahkan suatu pihak untuk gagalnya pertemuan antara ekpektasi dan realita saya?
Rasanya tidak. Selain tidak ada gunanya, saya rasa itu justru akan memperbesar kemungkinan ekspektasi saya yang berikutnya juga untuk tidak bertemu dengan pasangannya, si realita. Rasanya itu bukan saya.
Lagipula rasa sedih, sesal dan kehilangan saya tidak akan terobati dengan kemarahan. Pertanyaan-pertanyaan 'kenapa' tidak akan terjewab dengan mendendam. Saya bisa memilih disini, hanya menjadi manusia, atau manusia yang mau belajar dewasa.
Saya mau belajar dewasa, May. Tidak menyalahkan siapa-siapa, dan sekali lagi melewati perjalanan yang sulit untuk merelakan dia. Bila saya mendengar suaranya yang kadang begitu pilu, atau tanpa sengaja membayangkan bagaimana dia melewati itu, juga bila terlintas "Was it fast or not"...
Saya mencoba menyikapi itu sebagai sesuatu yang wajar. Wajar saya mengalami ini karena saya menyayangi dia. Karena terlepas dari apapun yang orang bilang tentang dia, saya tahu hidupnya yang tak mudah, saya ingat cerita-ceritanya. Saya ingat saya tidak bisa tidak menyayangi dia karena bahkan dalam ketersesatannya dia masih mencoba tersenyum dan tidak mengeluh. Karena sekecil apapun perasaan disayang yang diterimanya adalah kemewahan untuknya. Dan itu menyenangkan dia.
Ya saya pernah berekspektasi dunia akan memberikan kesempatan untuk Grady. Menjadi dewasa dan bahagia. Menemukan jalannya. Tertawa tanpa perih dimatanya.
Dan kali ini dunia berekspektasi saya untuk mengerti. Untuk mencari cara saya sendiri bisa bijaksana menyikapi realita yang yang ada. Untuk mencari cara saya sendiri bisa tidak larut terlalu dalam di ketidakrelaan saya sendiri tuk kali kedua. Untuk melatih kedua mata, telinga dan satu-satunya hati saya agar tidak terlalu kecewa, sinis dan terhancurkan tuk waktu yang terlalu lama. Karena kalau dia bisa, dia akan lagi-lagi berkata, "Jangan cemberut terus dong, kak."...Seperti biasanya.
Saya menghindari semua yang bisa menumbuhkan rasa benci ataupun dendam sekarang-sekarang ini. Saya memilih untuk tidak mengetahui dulu semua detail, kecurigaan ataupun hasil analisa yang ada. Buat apa? Dia sudah tidak ada dan saya yakin sudah terlalu banyak pihak yang terlibat dengan fungsinya masing-masing disana. Fungsi keadilan, keamanan, cuci tangan...Semua itu hanya akan menyeret fokus saya menjauh dari apa yang sebetulnya harus saya atasi sekarang ini. Atau lebih tepatnya: harus saya pahami sekarang ini.
Rasa sedih saya karena ekspektasi saya untuk masih melihat dia atau untuk kalaupun harus kehilangan dia, setidaknya dengan cara yang biasa-biasa saja, tidak sesuai dengan realita. Dan sejujurnya ada moment dimana saya kira saya sudah gila. Untuk kali pertama di hidup saya, saya enggan melihat berita, enggan membaca koran pagi. Untuk kali pertama di hidup saya, saya tertawa atas sesuatu yang sebetulnya mengiris perasaan saya. Hanya karena saya belum siap betul-betul merasakan apa yang sesungguhnya ada dalam diri saya. Saya harus menahan diri untuk tidak langsung bereaksi pada ungkapan2 simpati yang saya terima karena kalau tidak reaksi saya akan terwujud dalam bentuk tangisan dsb. Atau mungkin saya akan marah karena mereka mengingatkan saya pada hal itu sementara saya mati-matian menyibukan diri saya dengan hal-hal konyol saperti membaca tiga buku sekaligus hanya untuk menghentikan screensaver jelek di benak saya yang isinya bayangan tentang...Saya membiasakan diri menghitung sampai sepuluh dulu. Then I would actually undrestand that they mean no harm, that eventough only a few of them really understand how it felt like, they really do want to.
May, ini sulit tapi tidak ada pilihan lain selain menghadapinya, kan? Kalaupun ada pilihan yang bisa dipertimbangkan adalah untuk menghadapinya dengan berani atau dengan ciut hati. Dan saya ingat pernah menasehati dia untuk jangan pernah takut menghadapi masalah2 nya sendiri...
So that's how I'm gonna be.
~k~
Solid masih misteri di senja yang kesekian ratus. Layar lembut diatas tarian arus dan gerombol keemasan yang pelan memupus. Hh...Sebuah perjalanan berawal lagi dengan ketidakpastian yang absolut. Kelabilan yang konstan. Kegelisahan yang tenang. Satu hari yang istimewa bicara pada 51 lainnya: "Kamu terlalu yakin bahwa sepanjang hari kau menyata, dan sepanjang malam kau bermimpi. Siapa yang bilang nyatamu itu bukan mimpi dan mimpimu itu bukan nyata? Kamu terlalu yakin bahwa ide lah yang mengawali wujud kasat, dan lupa bahwa mungkin saja wujud terjadi agar idemu bimbang terjerat. Tak lagi bebas, tak lagi lepas." "Kamu terlalu sibuk dengan keyakinan bahwa kamu tak takut, sementara entah kenapa hatiku merasakan titik terdalammu begitu kalut." "Kamu berkata kamu tak peduli, tapi benarkah kau menyukai ketidakpedulianmu sendiri?" "Tidakkah pernah terpikir, untuk membiarkan kepedulianmu sesekali hadir." "Aku mengundangmu ke sebuah pesta gembira yang tak menyediakan menu-menu curiga." "Datang dan hiduplah sebentar saja. Percayalah kamu akan tetap istimewa, kamu takkan menjadi sama..." "Karena disaat semua terobsesi menjadi beda, yang tidak takut untuk sama mungkin lebih tak biasa." "Yang tidak takut untuk sama mungkin lebih bahagia." "Jangan terserang, sayang. Kesarkasanmu hanya kan yakinkanku bahwa aku memang memahamimu...Sedikit lebih terang dari yang mungkin kau izinkan." "Atau sekarang kau akan bicara bahwa bahagia bukanlah segalanya?" "Oke, kalau bahagia bukanlah segalanya, lalu...apa?"
May, Belakangan ini saya dihadapkan pada banyak hal yang lucu, banyak penjelasan untuk beberapa insiden di masa lalu. Remember when I used to say 'why?' and you would answer 'you will know in time'? Saya sudah percaya bahkan di kali pertama kamu menjawabnya, hanya saja saya sering lupa. Dan sahabat terbaik kita itu, Dia membuktikan bahwa kadang-kadang kita memang harus menunggu. Apa yang terjadi? Saya menebak itu pasti yang terlintas di benakmu, paragraf pertama tadi adalah sesuatu yang kamu kira takkan pernah kamu baca, terutama jika saya yang menuliskannya. Itulah May, jawaban yang akhirnya tiba untuk pertanyaan yang berulang kali muncul di benakmu dulu setiap kali selesai mengucapkan 'itu kan terjawab waktu'. Pertanyaan yang terlintas selalu tapi tak pernah saya dengar darimu. Saya hancur, dan terbentuk lagi. Saya sakit, dan sehat lagi. Saya berlari dan berhenti. Banyak sekali kehilangan yang saya alami, kemarin ini May. Saya sudah melewati tahap tidak percaya itu terjadi, mengasihani diri sendiri, dan tersadar bahwa saya tidak punya pilihan lain selain berdiri dan mengajari saya bahwa bagaimanapun saya beruntung karena sesungguhnya apa yang saya alami tidaklah segawat banjir air mata yang terjadi. Saya kehilangan keyakinan, kehilangan kisah yang saya inginkan, kehilangan nyawa seseorang, kehilangan sandaran, dan akhirnya kehilangan rasa takut yang selama ini saya anggap sebagai sebuah kelemahan. Dan rasanya ternyata... Aneh sekali, May, tidak takut apa-apa itu rasanya tidak seenak yang saya kira. Ada rasa kosong yang aneh dan membuat geraksaya lebih ringan dari biasanya, dan entah kenapa, tapi saya tidak suka. Jadi suatu pagi saya terbangun dan bercermin sehabis mandi. Saya memerintahkan dia yang menatap mata saya disana, untuk mencari lagi rasa takut yang entah ada dimana. Dia menyanggupi, dan tiga hari kemudian dia membawakan saya pertemuan dengan saya dalam tubuh yang lain. Tubuh yang beda, masa lalu yang tak sama. Tapi entah kenapa saya begitu curiga: dia adalah saya dan saya adalah dia. Tidak saya inginkan apa-apa, hanya saja untuk pertama kalinya saya bertatap muka dengan kegelisahan yang sangat akrab terasa. Berulang kali dia menyuarakan apa yang oleh saya hanya terpikir, saya tertawa sekaligus terpana bagaimana dia bisa begitu mahir. Mengucapkan apa yang selama ini abstrak dan pelik, menamakan apa yang selama ini begitu rumit terbalik-balik. Sampai suatu senja saya memutuskan berhenti menggunakan kata-kata, dan mengecup bayang nyata yang duduk disana. Dan saya berhenti curiga, saya berhenti menganalisa. Bukan karena saya tidak ingin, May...Kamu cukup mengenal saya untuk tahu, seberapa terobsesinya saya pada mereka berdua. Yang sesungguhnya adalah: Saya berhenti pada saat saya bertanya 'untuk apa?'. Saya merasa sedang di ditatap curiga, saya merasa sedang dianalisa...Biarkan saja. Saya akan bertanya padanya waktu dia selesai, "Jadi apa kesimpulanmu tentang saya, raja dengan seribu perisai?" Dan jawabnya tentang saya adalah jawab yang saya tunggu tentangnya. Mungkin saja. Saya tidak yakin sama sekali sebetulnya, dan kamu tahu memanipulasi seseorang atau sesuatu sama sekali bukan cara saya. Jadi mari kita menunggu, kemana kali ini hidup akan membawa saya. Satu yang pasti, saya tak lagi mati. Dan saya menyukai rasa takut saya yang kembali. And above all, I like how I'm liking the fear that is back. I always hated the fact that we could never know where life would take us to. Tapi belakangan saya sadar, banyak orang yang tidak membebaskan hidup membawa mereka ke tempat yang seharusnya. Mereka memaksa hidup membawa mereka ke tempat yang mereka kira tepat, dan menjadi mati jiwa karenanya. I'm just glad I'm not, and I hope I will never be, one of them. A plus, cherie...! âKâ where, a place where you are allowed to be that silent?
Tidak susah membuatku terpaku, tak perlu menunggu kuda terbang berlalu...Seperti suatu dini hari diantara sunyi beralaskan jalinan rami. Tak hanya terpalu, takjub membirukanku : Mengapa manusia tergila membicarakan 'selamanya'? Padahal satu menit tak terlengkapi belum juga pasti, padahal satu menit bisa merajut sedikit beda yang begitu berarti.
Silly.
Daydream delusion. Limousine Eyelash. Oh, baby with your pretty face. Drop a tear in my wineglass. Look at those big eyes. See what you mean to me : Sweet cakes and milkshakes. I am a delusioned angel. I am a fantasy parade. I want you to know what I think, don't want you to guess anymore. You have no idea where I came from. We have no idea where we're going. Launched in life like branches in the river. Flowing downstream caught in the current. I'll carry you. You'll carry me. That's how it could be. Don't you know me? Don't you know me by now?
~Before sunrise
 | No | Jul 23, '08 11:42 PM for everyone |
Gelap menggantung begitu rendah di awal hari. Suatu waktu yang mereka namakan 'pagi' anehnya tak dirasai dengan tenang hati. Aku masih saja menuliskanmu, dan kali ini adalah tentang mencoba tak lagi-lagi terpancing emosi. Kau selalu tahu tempat yang tepat untuk kau gores sedikit, tapi terasa sangat-sangat sakit. Aku terima, bila memang itu membuatmu lega. Inilah satu dari resiko yang pernah kutakuti, dan akhirnya kuhadapi. Kau ingat aku selalu berkata,
"Kesempatan itu satu paket dengan resiko. Jangan curang, kalau mau kesempatan, ambil juga resikonya. Kalau tidak mau resiko, jangan coba-coba ambil kesempatan. Be fair."
Kuambil kesempatan dihargai olehmu, dengan resiko menahankan kata-kata pedas itu. Dan..yah yah, berat teramat sangat. Kejujuran ternyata tidak cukup untuk membuatmu berhenti menyalahkan dunia, tidak juga kau bisa ingat bahwa aku bisa saja tetap tak bicara, dan lebih lagi membuatmu tersiksa. Tidak juga kau bisa ingat lebih lama dari sepersekian detik bahwa mungkin keakuanmulah yang membuat segalanya lebih tak mudah, pernahkah kau mencoba sesekali merasakan yang lain, yang mungkin juga gundah? Mungkin merekapun sedang kehilangan arah. Dan bahkan pada saat seperti itupun kebenaran masihlah diatas semuanya.
Peace if possible, truth at all cost ~Martin Luther
 | 5.30 am | Jul 21, '08 8:33 PM for everyone |
Jangan berkata begitu, bahwa tangan-tangan dan kaki-kakimu membelenggu. Bahwa kamu ingin lepas dan tak lagi disitu. There would never be the 'I understand how you feel', dear, all i know is that I just could sense your fear...
And it's alright, even so you're still my knight.
Sepertinya baru satu jam yang lalu kita bertemu, di dunia yang memungkinkan segala sesuatu. Sampai aku terbangun dan begitu saja merasakan sebongkah rindu, berwarna putih meledak saat terbangun menjadi serpih-serpih salju.
Dingin dan indah. Tak mungkin dan jadikanku gelisah.
Sayangku, kamu kenapa? Perlukah kita bertemu dan bicara?
Dua belas tahun lagi, aku mungkin kan masih berlari. Bukan tuk sembunyi, tapi tuk mencari. Bukan karena putus asa, tapi karena masih percaya. Dan bila malam tiba aku berhenti sebentar saja. Duduk tenang dan terbang di hitam yang tinggi, melompat dari kerlip yang kanan lalu kerlip yang kiri. Mataku mungkin terpejam, nafas teratur dalam diam.
Dan semoga aku masih bisa bermimpi Semoga hasratku itu belum berhenti Tuk tetap hidup, dan tak meredup
Tuk tetap menyata, dan bahagia apapun adanya, apapun adanya
Aku akan ingat sulur lembut matahari sore yang mengilapkan matamu. Di kali kedua kita bertemu dahulu, cerita-cerita berteman dua cangkir kopi bercampur krim dan susu. Aku akan ingat perasaan itu, pertanyaan yang melintasiku tentang apakah kaupun merasakanku, seperti caraku mengertikanmu. Mengertikan perih tak berujung, yang jadikan senyummu berselimut mendung.
Abu-abu yang hanya aku yang tahu.
Badai perasaan yang bisa kau bawa di hati siapa saja, mengharapkanmu yang hanya kan kau ganjar dengan satu lagi luka, kau sudah putuskan mereka hanya boneka dan kaulah dalangnya.
Masihkah hidup kaulihat sebagai panggung drama yang sama? Belum bisakah kau tuntun aku ke jalanan nyata? Dimana kita bisa bersama-sama mencari cara, mencari cara agar kita bisa lagi memiliki rasa percaya.
Aku tidak bisa jadi satu lagi luka, bangunlah. Aku akan menonton saja sandiwara boneka, dimana engkaulah yang jadi dalangnya. Bertepuk tangan keras-keras saat selesai, berdiri seiring dengan turunnya tirai, lalu "Congratz, S, great show!" dan berbalik setelah kumelambai.
If you haven't, you will findout: I'm not them, I'm not the same.
| |